Selasa, 28 Mei 2013

Perlawanan

B. Perlawanan Sultan Ageng Tirtyasa(Bantenn
B. Perlawanan Sultan Ageng Tirtyasa(Banten)
Sultan Ageng Tirtayasa adalah seorang di antara putra Sul tan Abdul ma’ali Achmad dan perkawinannya dengan Ratu Mar takusuma, seperti diketahui Sultan Abdul Ma’ali Achmad adalah putra Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir yang memenintah Banten 1596-1651. Dan catatan sejarah diketahui bahwa Ratu Martakusuma adalah seorang putri dan Pangeran Jakarta Wijayakrama. Pada waktu muda ia bergelar Pangeran Surya, adapun saudara seayah dan seibu dan Pangeran Surya adalah Ratu Kulon, Pangeran Kulon, Pangeran Lor dan Pangeran Raja. Adapun saudara-saudara yang seayah saja ialah Pangeran Wetan, Pangeran Kidul dan Ratu Tinumpuk.
Setelah Pangeran Surya itu diangkat oleh kakeknya sebagai Sultan Muda pengganti ayahnya yang wafat, maka ia diberi gelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Pangeran Ratu diangkat menjadi Sultan pengganti kakeknya yang bernama Abdul Mafakir Mahmud Abdul Kadir (Uka Tjandrasasmita. 1967:8). Sejak ia memegang tampuk pemerintahan serta sudah niendapat restu dan Mekkah, ia mendapat gelar Sultan Abul Fath Abdul Fattah. Di antara isteri-isteri yang disebut-sebut dalam cerita sejarah Banten ialah Nyai Gede Ayu dan Ratu
Nengah. Nyai Gede Ayu adalah putri seorang ponggawa yang karena amat cantiknya dapat inenarik perhatian Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Perkawinan dengan Ratu Ayu tersebut di lakukan setelah isteri pertamanya meninggal yang dalam seja rah Banten tidak disebutkan namanya. Di antara putra-putra Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah yang mencapai usia dewasa ialah Pangeran Purbaya dan Pangeran Gusti yang juga dikenal kelak dengan julukan Sultan Haji (Michrob, Halwany, dkk.1990).
Sejak Sultan Abul Fathi Abdul Fattah bertentangan dengan putranya yang bernama Sultan Haji atau Abu Nas’r Abdul Kohar itu, tatkala beliau telah mengundurkan din dan peme rintahan sehari-hari, maka ia pergi ke Tirtayasa dan men dirikan keraton yang baru di tempat itu. Sejak bersemayam di tempat mi ia dikenal dengan julukan Sultan Ageng Tintayasa, julukan inilah yang paling dikenal hingga kini di kalangan bang sa asing, sebagaimana ternyata dan catatan-catatan sejarahnya (Tjandrasasmita, 1967:9).
Sultan Abdul Mafakhin Abdul Kadir wafat pada tahun 1651 dan dibenitakan pula oleh cucunya itu kepada penguasa di Mek kah. Untuk mempersiapkan utusan persahabatan itu, diperin tahkan Mangkubumi Pangeran Mandura mengkabarkannya kepada Arya Mangunjaya, Mas Dipaningrat dan setiap warga. Mangkubumi memberitahukan kepada mereka bahwa sultan bermaksud menginimkan utusan ke Mekkah yaitu Santni Betot dengan tujuh orang lainnya. Utusan tensebut kecuali untuk me nyampaikan surat benita wafat kakeknya, juga berniat mernperkokoh kedudukannya sebagai Sultan pengganti. Selang beberapa waktu lamanya maka utusan dan Banten sudah sam pai dan kemudian kembali dan Mekkah. Utusan dan Mekkah sendiri yang datang bersama utusan Banten tendiri dan Sayid Au, Abdul Nabi, dan Haji Salim. Mereka itu kecuali membawa bingkisan juga membawa pesan untuk memberi gelar Sultan yang lengkapnya adalah: Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Sikap waspada terhadap musuh senantiasa jadi pedoman bagi Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Sikap tidak mau tunduk begitu saja terhadap kompeni Belanda tenlihat nyata dan usaha usahanya melancarkan garilya-genilya terutama di daerah Angke Tangerang yang sejak lama merupakan front terdepan, bahkan menurut berita dan kompeni Belanda sendiri Sultan.
Banten pada sekitar 1652 mangiririkan sejumlah besar ten taranya untuk mangadakan penyerangan terhadap kompeni Be landa di Jakarta. Memang benar Sultan Ageng Tirtayasa sejak memegang tampuk pemerintahan sebagai Sultan Banten sening menginimkan sejumlah besar tentaranya di daratan maupun di lautan untuk mangganggu kompeni. Peristiwa-peristiwa yang kecil-kecil selalu tenjadi di berbagai front tempat kedua belah pihak bertemu. Dengan demikian pihak kompeni Belanda mulai merasa khawatir, lebih-lebih perjanjian antara Jakarta dengan Banten yang dibuat awal bulan September 1645 yang hanus diperbarui masih menunjukkan tanda-tanda kegagalan dalam pembaruannya. Karena Banten terus melancankan gerilyanya, maka oleh kompeni Belanda dijawab dengan blokade pelabuhan pelabuhan yang termasuk kesultanan Banten. Pada masa itu kapal-kapal asing lainnya yang hendak berdagang dan masuk di Banten terpaksa mengarahkan haluannya ke negara-negara lain. Sebaliknya, putranya yang bernama Sultan Abu Nas’r Abdul Kahar atau Sultan Haji berbeda haluan dan mudah dipengaruhi oleh kompeni Belanda sehingga kemerdekaan Ban-ten dikorbankannya. (Michrob, Haiwany. 1992)
Keraton yang terletak di Tirtayasa itu letaknya amat strategis balk untuk perlawanan di lautan maupun di daratan karena tempat itu kecuali terletak di tepi pantai juga tenletak di jalan kuno yang dapat dipergunakan untuk manghubungkan serta mempercepat bantuan tentara-tentara yang dengan mudah mencapai daerah Jakarta. Dan Tirtayasa itulah Sultan Ageng Tirtayasa marencanakan dan melaksanakan pemba ngunan di bidang pertanian dan pengairan.
Saluran yang mudah dilayari perahu-perahu kecil digali se panjangjalan kuno, yakni dan sungai Untung Jawa (Cisadane), Tanara hingga ke Pontang. Diakui pula oleh Gubernur Jenderal John Maestsuyker dan Dewan Hindia bahwa pembuatan saluran air itu adalah untuk dipergunakan sewaktu-waktu untuk perjanjian, pengiriman utusan-utusan dan sebagainya. Karena kesibukan sehari-hari sudah kurang maka Sultan Ageng mulai bertempat tinggal tetap di keraton Tirtayasa. Sebenarnya dan tempat itu pula ia dapat mengawasi gerak-gerik putranya yang inemegang tampuk pemerintahan sehari-hari di Surosowan. Karena memang kekuasaan kesultanan Banten masih ada pada tangan Sultan Ageng Tirtayasa selaku Sultan tua. Keadaan mi pulalah yang digunakan untuk menghasut Sul tan Haji supaya menentang kebijaksanaan ayahnya, dan men dorong Sultan Haji untuk segera memperoleh kekuasaan penuh di Banten karena memang Sultan Haji sangat berkeinginan untuk itu.
Satu hal pula yang mengecewakan Sultan Ageng Tirtayasa, adalah surat ucapan selamat yang dikirimkan Sultan Haji atas, diangkatnya kembali Speelman menjadi Gubernur Jenderal VOC menggantikan Rijklof van Goens pada tanggal 25 Novem ber 1680. Padahal pada saat itu Kompeni baru saja manghan curkan pasukan gerilya Banten di Cirebon dan yang kemudian menguasai Cirebon seluruhnya.
Melihat keadaan anaknya yang sudah demikian itu, Sultan Ageng memobilisasikan pasukan perangnya untuk digunakan sewaktu-waktu. Rakyat dan daerah Tanahara, Pontang, Tir tayasa, Caringin, Carita dan sebagainya banyak yang mendaf tarkan din menjadi Prajurit. Demikian pula tentara pelarian dan Makasar, Jawa Timur, Lampung, Solebar, Bengkulu dan Cirebon bergabung dengan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Bahkan satu regu pasukan Sultan Haji yang diutus untuk menyelidiki kekuatan di Tirtayasa ikut pula bergabung dengan Sultan Ageng. Sultan sudah tidak perduli lagi dengan tentara dan barigsawan yang berpihak kepada Sultan Haji yang diang gapnya sudah berpindah adat dan berbeda haluan (Ambary, Hasan, dkk. 1992)
Dalam suasana yang sudah demikian panas, Sultan Ageng mendengar khabar bahwa beberapa kapal Banten yang pulang dan Jawa Timur ditahan Kompeni karena dianggap kapal perompak. Tuntutan Sultan Ageng supaya mereka dibebaskan tidak diindahkan. Hal mi membuat kemarahan Sultan menjadi jadi. Rasa harga din sebagai Sultan dan satu negara merdeka tenasa diremehkan. Maka diumumkannya bahwa Banten dan Kompeni Belanda ada dalam situasi perang. Keputusan Sultan Ageng mi ditentang oleh anaknya, Sultan Haji. Dia menyanggah atas dimaklumkannya perang atas Kom peni Belanda, karena keputusan itu terlalu ceroboh dan tidak dimusyawanahkan terlebih dahulu dengannya. Dengan ben modalkan dukungan pasukan Kompeni yang dijanjikan pada nya, Sultan Haji memakzulkan ayahnya. Dikatakannya bahwa ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, sudah terlalu tua dan sudah pikun, sehingga mulai saat itu kekuasaan Banten seluruhnya dipegang oleh Sultan Haji (Hamka, 1976:307).
Melihat tingkah-laku anaknya itu dan juga untuk menyatukan kekuatan pasukan Banten guna menyerbu Batavia, maka pada tanggal 26 malam 27 Februari 1682 dengan dipimpin sendini oleh Sultan Ageng, diadakanlah penyerbuan ke Surosowan. Panyerbuan mendadak mi berhasil mematahkan pelawanan pasukan Sultan Haji yang dalam waktu singkat is tana dapat dikuasainya. Sultan Haji sendiri melarikan din dan minta perlindungan kepada Jacon de Roy bekas pegawai Kom peni (Tjandrasasmita, 1967:41)
Keadaan mi segera dapat diketahui Batavia. Maka pada tanggal 6 Maret 1682 dipimpin olëh Sam Martin dikirimkannya dua kapal perang lengkap dengan pasukan perangnya. Akhirnya setelah terjadi pentempuran yang lama dan dibantu pula oleh pasukan besar yang dipimpin oleh Kapten Francois Tack dan Kapten Hartsinck, Surosoan dapat dikuasai Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa dengan sisa pasukannya bergerak munidur ke Kademangan dan Tanahara. Baru pada tanggal 28-29 Desemben 1882 Tanahara pun dapat direbut pasukan Kompeni yang dipim 5 pin oleh Kapten Jonker. Demikian pulalah dengan Tirtayasa se bagai pentahanan terakhin pasukan Sultan Ageng. Atas penintah Sultan Ageng, selunuh pasukan yang masih ada diharuskan mundur ke anah selatan ke hutan Keranggan. Tapi sebelumnya Sultan memenintahkan pula supaya istana dan bangunan lainnya di Tintayasa dibakar. Sultan tidak rela ha ngunan-bangunan itu diinjak oleh kafin dan pendunhaka (Tjandrasasmita, 1987:44)
Dan hutan Keranggan, Sultan Ageng Tirtayasa dan seluruh pasukannya melanjutkan perjalanan ke Lebak. Satu tahun me neka melakukan perang genilya dan sana. Tetapi akhinnya Lebak pun dikepung, sehiagga pasukan Sultan Ageng tenpecah menjadi dua bagian. Pangeran Purbaya dan sejumlah ten taranya bergerak di daerah sekitar Parijan, di pedalaman Tangerang. Sultan Ageng, Pangeran Kidul, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf beserta pasukannya bengenak ke daenah Sajira di perbatasan Bogon.
Sultan Haji berusaha keras agar ayahnya dapat kembali ke Surosowan. Dengan petunjuk serta nasehat kompeni yang ingin melakukan tipu daya halus maka Sultan Haji mengirimkan surat kepada ayahnya di Sajira. Sesudah utusan pembawa surat itu datang di Sajira dan ditenima Sultan Ageng Tirtayasa, de ngan tidak cuniga sedikit pun Sultan yang kala itu usianya sudah lanjut kembali ke Surosowan setelah ia bertahan di hutan. Tambahan pula seminggu sebelumnya yakni pada tang-gal 7 Maret 1683 Pangeran Kulon gugur ditikam oleh orang upahan kompeni. Sultan Ageng Tirtayasa dengan bebenapa pe ngawalnya sampailah di Surosowan dan langsung menemui putranya yang telah menantikan kedatangan ayahnya. Peneni maan Sultan Haji sangat balk meskipun di belakangnya telah ada maksud tertentu atas bujukan kompeni. Kedatangan di Surosowan itu tepat pada tanggal 14 Maret 1683 saat tengah malam. Tetapi setelah beberapa saat Iamanya tinggal di kenaton Surosowan ia ditangkap oleh kompeni untuk segera dibawa ke Jakarta. Memang itulah maksud dan tipu daya kompeni atas kerjasama dengan Sultan Haji. Jika Sultan Ageng Tintayasa dibiarkan berada di Surosowan maka dikhawatinkan oleh kom peni Belanda akan dapat mempengaruhiSultan Haji yang sudah erat bekerjasama dengan komperii.
Sultan Ageng Tirtayasa dimasukkan ke dalain penjara ber benteng dengan penjagaan serdadu kompeni hingga meninggal di penjana pada tahun 1692. Jenazahnya oleh Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (anaknya Sultan Haji) dan tenutama oleh nakyat Banten yang amat mencintainya dan mengakui sebagai pahiawan besan yang dengan gigihnya mempentahankan kemer dekaan kesultanan Banten yang dimintakan kepada pemerintah tinggi kompeni Belanda untuk dikinimkan kembali. Kemudian dengan upacara keagamaan yang amat mengesankan Ia dimakamkan di samping Sultan-Sultan yang mendahuluinya di sebelah utara Mesjid Agung (Tjandnasasmita, 1967:46).
Sesudah masa Sultan Ageng Tirtayasa adalah menupakan masa sunutnya pengaruh politik kenajaan Banten. Banten telah ada dalam penganuh pengawasan Belanda. Sultan Ageng Tin tayasa wafat di dalam penjara kompeni Belanda di Jakarta dan dimakamkan sebagai seorang pahlawan besar oleh raja dan rak yat Banten serta dimakamkan di komplek makarn naja-raja Ban-ten yang terletak di sebelah utara serambi mesjid Agung Banten. Walaupun secara politis kekuasaan kerajaan dan peme rintahan telah ada di tangan Belanda, namun pe~juangan dan syiar Islam masih tetap diteruskan oleh para pengikut yang setia kepada cita-cita perjuangan Sultan dan para pen dahulunya. Perjuangan ternyata tidak terhenti walaupun sistem perjuangan yang dipakai sistem penang gerilya.
Ketika Sultan Ageng Tirtayasa wafat atas tipu daya Belan da dan kerjasama Sultan Haji serta gugurnya Pangeran Kulon, semangat perjuangan menentang dominasi Belanda tidaklah barkurang. Hal mana menjadikan motivasi pejuang yang pro Sultan Ageng Tintayasa semakin meningkat kanena kekuasaan kerajaan Bariten di bawah Sultan Haji telah ada dalam peng anuh politik Belanda. Jajanan pejuang terdini dan keluarga
kerajaan, pana ulama dan nakyat masih terus berjuang di hutan hutan menentang kolonialisme Belanda. Tokoh gerilya itu dian taranya adalah seorang ulama Banten asal Makasar yang diangkat mufti kenajaan Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa yang bennama Syekh Yusuf.


SILSILAH SULTAN AGENG TIRTAYASA
ABDUL FATH ‘ABDUL FATTAH (1851-1872)

Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fath ‘Abdul Fattah adalah putna Sultan Abdul Ma’ali Ahmad. Adapun Sultan Ageng Tin­tayasa Abdul Fath’ Abdul Fattah benputra:
1. Sultan Haji*)12. Raden Mesir
2. Pg. Arya Abdul ‘Alim 13. Reden Muhammad 19. Tubagus Abdul
3. Pg. Arya Ingayudadipuna 14. Raden Muhsin 20. Ratu Baja Mirah
4. Pg. Anya Punbaya 15. Tubagus Wetan 21. Tubagus Kulon
5. Pangenan Sugiri 16. Tubagus Muhammad Athif22. Ratu Kidul
6. Tubagus Rajasuta 17. Ratu Nasibah23. Ratu Marta
7. Tubagus Rajaputna 18. Ratu Ayu
8. Tubagus Husen 24. Ratu Uinu
9. Raden Mandaraka 25. Ratu Hadijah
10. Raden Saleh 26. Ratu Habibah
11. Raden Sum 27. Ratu Fatimah


Nuku Muhammad Amiruddin

Nuku Muhammad Amiruddin
Muhammad Amiruddin atau lebih dikenal dengan nama Sultan Nuku (SoasiuTidore1738 - Tidore14 November1805) adalah seorang Pahlawan NasionalIndonesia. Dia merupakan sultan dari Kesultanan Tidore yang dinobatkan pada tanggal 13 April1779, dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan”.

[sunting]Biografi

Muhamad Amiruddin alias Nuku adalah putra Sultan Jamaluddin (1757–1779) dari kerajaan Tidore. Nuku juga dijuluki sebagai Jou Barakati artinya Panglima Perang. Pada zaman pemerintahan Nuku (1797 – 1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau TidoreHalmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya dan membela kebenaran.
Dari satu daerah, Nuku berpindah ke daerah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan yang lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.

Perang dengan Belanda

Pemerintah Kolonial Belanda yang berpusat di Batavia (kini Jakarta) dengan gubernur-gubernurnya yang ada di AmbonBanda dan Ternate selalu berhadapan dengan raja pemberontak ini yang terus mengganjal kekuasaan Kompeni (Belanda) tanpa kompromi. Mereka semua tidak mampu menghadapi konfrontasi Nuku. Nuku merupakan musuh bebuyutan yang tidak bisa ditaklukan, bahkan tidak pernah mundur selangkahpun saat bertempur melawan Belanda di darat maupun di laut.
Ia adalah seorang pejuang yang tidak dapat diajak kompromi. Semangat dan perjuangannya tidak pernah padam, walaupun kondisi fisiknya mulai dimakan usia. Kodrat rohaninya tetap kuat dan semangat tetap berkobar sampai ia meninggal dalam usia 67 tahun pada tahun 1805. Sebagai penghargaan terhadap jasa-jasa dan pengorbanannya, Pemerintah Republik Indonesia mengukuhkan Sultan Nuku sebagai “Pahlawan Nasional Indonesia

Sultan Mahmud Badaruddin II

Untuk bandar udara dengan nama yang sama, lihat Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sultan Mahmud Badaruddin II (l: Palembang1767, w: Ternate26 September1852)[1] adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode (1803-18131818-1821), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803). Nama aslinya sebelum menjadi Sultan adalah Raden Hasan Pangeran Ratu[2]
Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya yang disebut Perang Menteng. Pada tangga 14 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate.
Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan Mata uang rupiah pecahan 10.000-an yang dikeluarkan oleh bank Indonesia pada tanggal 20 Oktober2005. Penggunaan gambar SMB II di uang kertas ini sempat menjadi kasus pelanggaran hak cipta, diduga gambar tersebut digunakan tanpa izin pelukisnya, namun kemudian terungkap bahwa gambar ini telah menjadi hak milik panitia penyelenggara lomba lukis wajah SMB II.

Konflik dengan Inggris Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Britania dan Belanda. demi menjalin kontrak dagang, bangsa Eropa berniat menguasai Palembang. Awal mula penjajahan bangsa Eropa ditandai dengan penempatan Loji (kantor dagang). Di Palembang, loji pertama Belanda dibangun di Sungai Aur (10 Ulu).
Orang Eropa pertama yang dihadapi Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah SirThomas Stamford Raffles. Raffles tahu persis tabiat Sultan Palembang ini. Karena itu, Raffles sangat menaruh hormat di samping ada kekhawatiran sebagaimana tertuang dalam laporan kepada atasannya, Lord Minto, tanggal 15 Desember1810:
Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan dollar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya. Saya anggap inilah yang merupakan satu pokok yang penting untuk menghalangi Daendels memanfaatkan pengadaan sumber yang besar tersebut.
Bersamaan dengan adanya kontak antara Britania dan Palembang, hal yang sama juga dilakukan Belanda. Dalam hal ini, melalui utusannya, Raffles berusaha membujuk SMB II untuk mengusir Belanda dari Palembang (surat Raffles tanggal 3 Maret 1811).
Dengan bijaksana, SMB II membalas surat Raffles yang intinya mengatakan bahwa Palembang tidak ingin terlibat dalam permusuhan antara Britania dan Belanda, serta tidak ada niatan bekerja sama dengan Belanda. Namun akhirnya terjalin kerja sama Britania-Palembang, di mana pihak Palembang lebih diuntungkan.
Pada tanggal 14 September1811 terjadi peristiwa pembumihangusan dan pembantaian di loji Sungai Alur. Belanda menuduh Britanialah yang memprovokasi Palembang agar mengusir Belanda. Sebaliknya, Britania cuci tangan, bahkan langsung menuduh SMB II yang berinisiatif melakukannya.
Raffles terpojok dengan peristiwa loji Sungai Aur, tetapi masih berharap dapat berunding dengan SMB II dan mendapatkan Bangka sebagai kompensasi kepada Britania. Harapan Raffles ini tentu saja ditolak SMB II. Akibatnya, Britania mengirimkan armada perangnya di bawah pimpinan Gillespie dengan alasan menghukum SMB II. Dalam sebuah pertempuran singkat, Palembang berhasil dikuasai dan SMB II menyingkir ke Muara Rawas, jauh di hulu Sungai Musi.
Setelah berhasil menduduki Palembang, Britania merasa perlu mengangkat penguasa boneka yang baru. Setelah menandatangani perjanjian dengan syarat-syarat yang menguntungkan Britania, tanggal 14 Mei1812 Pangeran Adipati (adik kandung SMB II) diangkat menjadi sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin II atau Husin Diauddin. Pulau Bangka berhasil dikuasai dan namanya diganti menjadi Duke of York's Island. Di Mentok, yang kemudian dinamakan Minto, ditempatkan Meares sebagai residen.
Meares berambisi menangkap SMB II yang telah membuat kubu di Muara Rawas. Pada 28 Agustus1812 ia membawa pasukan dan persenjataan yang diangkut dengan perahu untuk menyerbu Muara Rawas. Dalam sebuah pertempuran di Buay Langu, Meares tertembak dan akhirnya tewas setelah dibawa kembali ke Mentok. Kedudukannya digantikan oleh Mayor Robison.
Belajar dari pengalaman Meares, Robison mau berdamai dengan SMB II. Melalui serangkaian perundingan, SMB II kembali ke Palembang dan naik takhta kembali pada 13 Juli1813 hingga dilengserkan kembali pada Agustus 1813. Sementara itu, Robison dipecat dan ditahan Raffles karena mandat yang diberikannya tidak sesuai.

[sunting]Konflik dengan Belanda

Konvensi London13 Agustus1814 membuat Britania menyerahkan kembali kepada Belanda semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803. Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan Palembang kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus1816 setelah tertunda dua tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall.
Belanda kemudian mengangkat Herman Warner Muntinghe sebagai komisaris di Palembang. Tindakan pertama yang dilakukannya adalah mendamaikan kedua sultan, SMB II dan Husin Diauddin. Tindakannya berhasil, SMB II berhasil naik takhta kembali pada 7 Juni1818. Sementara itu, Husin Diauddin yang pernah bersekutu dengan Britania berhasil dibujuk oleh Muntinghe ke Batavia dan akhirnya dibuang ke Cianjur.
Pada dasarnya pemerintah kolonial Belanda tidak percaya kepada raja-raja Melayu. Mutinghe mengujinya dengan melakukan penjajakan ke pedalaman wilayah Kesultanan Palembang dengan alasan inspeksi dan inventarisasi daerah. Ternyata di daerah Muara Rawas ia dan pasukannya diserang pengikut SMB II yang masih setia. Sekembalinya ke Palembang, ia menuntut agar Putra Mahkota diserahkan kepadanya. Ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan sultan kepada Belanda. Bertepatan dengan habisnya waktu ultimatum Mutinghe untuk penyerahan Putra Mahkota, SMB mulai menyerang Belanda
Pertempuran melawan Belanda yang dikenal sebagai Perang Menteng (dari kata Muntinghe) pecah pada tanggal 12 Juni1819. Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, di mana korban terbanyak ada pada pihak Belanda. Pertempuran berlanjut hingga keesokan hari, tetapi pertahanan Palembang tetap sulit ditembus, sampai akhirnya Muntinghe kembali ke Batavia tanpa membawa kemenangan.
Belanda tidak menerima kenyataan itu. Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen merundingkannya dengan Laksamana Constantijn Johan Wolterbeek dan Mayjen Hendrik Merkus de Kock dan diputuskan mengirimkan ekspedisi ke Palembang dengan kekuatan dilipatgandakan. Tujuannya melengserkan dan menghukum SMB II, kemudian mengangkat keponakannya (Pangeran Jayaningrat) sebagai penggantinya.
SMB II telah memperhitungkan akan ada serangan balik. Karena itu, ia menyiapkan sistem perbentengan yang tangguh. Di beberapa tempat di Sungai Musi, sebelum masuk Palembang, dibuat benteng-benteng pertahanan yang dikomandani keluarga sultan. Kelak, benteng-benteng ini sangat berperan dalam pertahanan Palembang.
Pertempuran sungai dimulai pada tanggal 21 Oktober1819 oleh Belanda dengan tembakan atas perintah Wolterbeek. Serangan ini disambut dengan tembakan-tembakan meriam dari tepi Musi. Pertempuran baru berlangsung satu hari, Wolterbeek menghentikan penyerangan dan akhirnya kembali ke Batavia pada 30 Oktober1819.
SMB II masih memperhitungkan dan mempersiapkan diri akan adanya serangan balasan. Persiapan pertama adalah restrukturisasi dalam pemerintahan. Putra Mahkota, Pangeran Ratu, pada Desember 1819 diangkat sebagai sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin III. SMB II lengser dan bergelar susuhunan. Penanggung jawab benteng-benteng dirotasi, tetapi masih dalam lingkungan keluarga sultan.
Setelah melalui penggarapan bangsawan ( susuhunan husin diauddin dan sultan ahmad najamuddin prabu anom )dan orang Arab Palembang melalui pekerjaan spionase, dan tempat tempat pertahanan disepanjang sungai musi sudah diketahui oleh belanda serta persiapan angkatan perang yang kuat, Belanda datang ke Palembang dengan kekuatan yang lebih besar. Tanggal 16 Mei1821 armada Belanda sudah memasuki perairan Musi. Kontak senjata pertama terjadi pada 11 Juni 1821 hingga menghebatnya pertempuran pada 20 Juni 1821. Pada pertempuran 20 Juni ini, sekali lagi, Belanda mengalami kekalahan. De Kock tidak memutuskan untuk kembali ke Batavia, melainkan mengatur strategi penyerangan.
Bulan Juni 1821 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu 24 Juni, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang. di depan sekali kapal yang tumpangi saudaranya Susuhunan Husin Diauddin dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom dan Susuhunan Ratu Bahmud Badaruddin / SMB 2 merasa serba salah, kalau ditembak saudaranya sendiri yang berada dikapal belanda dan anggapan orang sultan palembang Darussalam sampai hati membunuh saudara karena harta / tahta (Badar Darussalam
Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang. Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera rod, wit, en blau di bastionKuto Besak, maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda di Palembang.
Tanggal 13 Juli1821, menjelang tengah malam tanggal 3 Syawal , SMB II beserta sebagian keluarganya menaiki kapal Dageraad pada tanggal 4 syawal dengan tujuan Batavia. Dari Batavia SMB II dan keluarganya diasingkan ke Pulau Ternate sampai akhir hayatnya 26 September1852. ( selama 35 tahun tinggal di Ternate dan sketsa tempat tinggal Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin / SMB II disimpan oleh Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja).


Perlwanan Patih Gusti Ketut Jelantik Terhadap Belanda
Raja Buleleng dan Karangsem nampaknya telah sepakat secara bersama-sama untuk menghadapi Belanda yang setiap saat telah berusaha untuk merongrong dan mengurangi kekuasaan raja-raja Bali dengan mengikatnya melalui perjanjian-perjanjian.Atas persetujuan dan perintah Gubernur Generaal Rachusen, maka disiapkanlah sebuah ekspedisi penyerangan terhadap kerajaan Buleleng. Sebagai realisasinya, maka pada tahun 1846 sebuah ekspedisi bertolak dari Besuki menuju buleleng di bawah pimpinan Schout E.B van den Bosch yang didampingi oleh seorang pelaut J. Entlie, A. J de Sintvan den Broeek, serta pimpinan angkatan darat di bawah Letnan Kolonel J . Bakker

Jalannya Perlawanan Pada tanggal 23 Mei 1846, kapal "Bromo" telah mendarat di pelabuhan Buleleng. Salah seorang dari kapal itu mengutus seorang Cina yang pada waktu itu ia menjabat sebagai Syahbandar untuk menghadap raja Buleleng, dengan tugas menyampaikan perintah agar mau menerima perintah Belanda. Raja Buleleng beserta patihnya menolak, dan menyatakan tetap pada prinsipnya yang semula.Patih Gusti Ketut Jelantik mulai mempersiapkan laskarnya untuk setiap saat menghadapi serangan dari ekspedisi Belanda.

Pada tanggal 26 Mei 1846, raja Buleleng mengutus subandar Buleleng untuk menghadap kepada pemerintah Belanda yang berada di kapal "Bromo", dengan membawa surat raja Buleleng yang isinya meminta penangguhan waktu sepuluh hari karena raja Buleleng akan mengadakan perundingan dengan raja Klungkung, saudaranya dari kerajaan Karangasem.

Dalam upaya untuk memperoleh waktu yang cukup banyak untuk menyusun kekuatan kembali, maka raja Buleleng bersedia menandatangani perjanjian yang disodorkan oleh pemerintah Belanda sebagai tanda kekalahan di pihak Buleleng.Perjanjian itu ditandatangani pada tangal 9 Juli 1846, baik oleh pihak raja Buleleng maupun dari pihak pemerintah Belanda sendiri.

Ageng Tirtayasa dari Banten

Sultan Ageng Tirtayasa (Banten1631 – 1683) adalah putra Sultan Abdul Ma'ali Ahmad dan Ratu Martakusuma yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten.

[sunting]Riwayat Perjuangan

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 - 1683. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.
Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.
Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan Saint-Martin.

[sunting]Silsilah Sultan Ageng Tirtayasa

.Sultan Ageng Tirtayasa @ Sultan 'Abdul Fathi Abdul Fattah bin
.Sultan Abul Ma'ali bin
.Sultan Abul Mafakhir bin
.Sultan Maulana Muhammad Nashruddin bin
.Sultan Maulana Yusuf bin
.Sultan Maulana Hasanuddin bin
.Sultan Syarif Hidayatullah @ Sunan Gunung Jati Cirebon
E. Perlawanan Pangeran Antasari Tehadap Belanda
Pangeran berwajah ganteng ini, telah bekerja sama dengan para petani. Dua tokoh pimpinan kaum petani saat itu Panembahan Aling dan Sultan Kuning, telah membantu Antasari untuk melancarkan serangan besar-besaran.Mereka menyerang pertambangan batubara Belanda dan pos-pos misionaris serta membunuh sejumlah orang Eropah.Sehingga pihak Kolonial mendatangkan bantuan besar-besaran.Antasari kemudian bergabung dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Marthapura, Barito, Pleihari, kahayan, Kapuas, dan lain-lain.Mereka bersepakat mengusir Belanda dari Kesultanan Banjar.Maka perang makin menghebat, dibawah pimpinan Pangeran Antasari.Pernah pihak Belanda mengajak berunding, tetapi Pangeran Antasari tidak pernah mau.Daerah pertempurannya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimanatan Selatan, Pangeran Antasari terserang juga, sampai ia meninggal pada 11 Oktober 1862 di bayan Begak, Kalimantan Selatan. Kemudian ia dimakamkan di Banjarmasin. Perlawanan orang Banjar ahirnya bisa mulai ditumpas pada tahun 1860, meskipun untuk ini dibutuhkan beaya sangat besar. Lalu sejak saat itu, pihak Kolonial menghapus kerajaan Banjar, Namun demikian pertempuran masih berlangsung terus dan baru berahir secara total pada tahun 1863. Setelah Antasari wafat, kepemimpinan rakyat Banjar dilanjutkan oleh keturunan dan kerabatnya.

Sebagaimana ditulis dalam Banjarmasin Post, 19 Agustus 2006, rupanya gambar yang menjadi referensi wajah untuk lukisan pada uang kertas yang akan datang itu, masih disangsikan kebenarannya. Tidak kurang janda almarhum pelulkisnya yang bernama Hasan Salman, menyatakan bahwa lukisan itu fiktif dan merupakan campuran dari 5 wajah orang. Nyatakah Pangeran Antasari ?. Tentu saja, bukankah ada makamnya !. Lalu kenapa tidak ada foto atau lukisan dirinya itu ?.Inilah pentingnya sejarah kita, sejarah nasional yang harus ditekuni penelitiannya dengan baik.Supaya jasa orang yang katanya amat besar ini dapat dilestarikan bagi anak cucu.

Perlwanan Raja Sisingamangaraja XII( 1870-1907)

Perlwanan Raja Sisingamangaraja XII (1870-1907)Pada saat Sisingamangaraja memerintah kerajaan Bakra, Tapanuli Sumatera Utara, Belanda dating. Belanda ingin mengusai Tapanuli.Sisingamangaraja beserta rakyat Bakara mengadakan perlawanan.Tahun 1878 Belanda menyerang Tapanuli.Namun pasukan Belanda dapat dihalau oleh rakyat.Pada tahun 1904 Belanda kembali menyerang tanah gayo.Pada saat itu Belanda juga menyerang Danau Toba.Pada tahun 1907, pasukan Belanda menyerang kubu pertahanan pasukan Sisingamangaraja XII di Pakpak.Sisingamangaraja gugur dalam penyerangan itu.Jenazahnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan Ke Balige.

C. Perlwanan Sultan hasanuddin Terhadap belanda(Makassar)

C. Perlwanan Sultan hasanuddin Terhadap belanda(Makassar)
Karena keberaniannya , Sultan Hasanudin mendapat julukan "Ayam Jantan dari Timur". Julukan ini justru diberikan oleh lawannya yaitu Belanda, karena merasakan bahwa perang dan perlawanan Sultan Hasanaudin adalah perlawanan yang paling dahsyat yang dirasakan Belanda dibandingkan perang-perang yang lain.
Sultan Hasanudin naik tahta sebagai raja Gowa ke-16 menggantikan Sultan Muhammad Said.Meskipun sebenarnya bukan putra mahkota, namun pengalaman dan kemampuannya yang luas ditunjuk oleh Sultan Muhammad Said menggantikan dirinya setelah wafat.
Karena tidak mau tunduk terhadap pemerintah kolonialis Belanda yang berpusat di Batavia, Sultan Hasanudin berkali-kali mendapat serangan dari pasukan Belanda yaitu penyerangan yang pertama terjadi pada tahun1660, kedua terjadi tahun 1666, ketiga tahun 1667 dan keempat pada tahun1669. Perang yang dilakukan oleh Sultan Hasanudin bukan semata-mata untuk mempertahankan tanah air atau mengusir kaum imperialis, namun juga membantu rakyat di luar kerajaannya yang mengalami tindakan kejam yang dilakukan oleh Belanda. Dalam hal ini, pada bulan Maret 1645 Sultan Hasanudin mengirimkan armada yang kuat terdiri dari 100 perahu untuk membantu rakyat Maluku mengadakan perlawanan terhadap kekejaman Belanda yang dikenal dalam sejarah sebagai "Perang Hongi".
Meskipun pada masa pemerintahannya berulang kali terjadi peperangan, namun Sultan Hasanuddin bukanlah sosok pemimpin yang suka kekerasan dan haus perang.Sifat humanismenya sebagai raja besar nampak pada kesediaannya untuk menerima Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.
Isi perjanjian Bongaya antara lain:
· Sultan hasanuddin harus memberikan kebebasan kepada VOC berdagang dikawasan Makassar dan Maluku
· VOC memegang monopoly perdagangan di wilyah Indonesia bagian Timur denagn pusatnya Makassar
· Sultan Hasanuddin harus mengakui bahwa Aru Palaka adalah Raja Bone
Dengan menerima perjanjian tersebut Sultan Hasanudin dapat mencegah banyaknya korban jatuh di kedua belah pihak, apalagi ternyata pasukannya harus berhadapan dengan bangsa sendiri yaitu Tidore, Ternate, Buton dan Bone yang membantu Belanda.Penghentian sementara perang ini juga merupakan strategi Sultan Hasanudin untuk mengatur nafas sebelummenghadapiperangselanjutnya.
Sultan Hasanudin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 dalam usia yang relatif muda yakni 39 tahun. Dalam usianya yang pendek banyak hal yang telah dikerjakannya, atas jasanya diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada tahun 1973.
A. Perlwanan Pattimura Terhadap Belanda(Maluku)
Pattimura (1817) Belanda melakukan monopoli perdagangan dan memaksa rakyat Maluku menjual hasil rempah-rempah hanya kepada Belanda, menentukan harga rempah-rempah secara semena-mena, melakukan pelayaran hongi, dan menebangi tanaman rempahrempah milik rakyat.Rakyat Maluku berontak atas perlakuan Belanda. Dipimpin oleh Thomas Matulessi yang nantinya terkenal dengan nama Kapten Pattimura, rakyat Maluku melakukan pada tahun 1817. Pattimura seorang pejuang wanita Christina Martha Tiahahu. Perang melawan Belanda meluas ke berbagai daerah di Maluku, dibantu oleh Anthony Ribok, Philip Latumahina, Ulupaha, Paulus Tiahahu, dan seperti Ambon, Seram, Hitu, dan lain-lain. Belanda mengirim pasukan besarbesaran.Pasukan Pattimura terdesak dan bertahan di dalam benteng.Akhirnya, Pattimura dan kawan-kawannya tertawan. Pada tanggal 16 Desember 1817,Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria di Ambon.Setelah itu Pattimura melanjutkan peperangan di saparua
Perlawanan pasukan Pattimura pada tahun 1829 di Saparua merupakan kelanjutan Perang Pattimura 1817.
Sebab musabab yang mendasari Perang Pattimura juga menjadi alasan bagi pasukan Pattimura untuk
melakukan aksi. Semula mereka bersama Kapitan Pattimura telah minum sumpah (angkat janji setia melalui
tetesan darah yang diminum bersama) untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari wilayahnya, di Bukit
Saniri dalam suatu musyawarah besar. Janji setia kepada Kapitan yang mereka kagumi dan ketaatan pada
tanah tumpah darah yang melahirkan mereka, memberikan pilihan hidup atau mati untuk perjuangannya.
Mereka menyaksikan pemimpin-pemimpinnya mati digantung di depan benteng Victoria oleh penguasa
untuk menakut-nakuti rakyat, karena itu mereka akan lebih berhati-hati dalam mengatur strategi.
Organisasi pemerintahan negeri sesudah perang Pattimura tidak dapat menampung dan menyalurkan aspirasi
rakyat karena telah diawasi secara ketat melalui Stb. 1824. No. 19.a. tentang pemerintahan negeri. Satusatunya
wadah yang dapat dijadikan sebagai kendaraan untuk menyatukan persepsi dan menyalurkan
aspirasi adalah organisasi tradisional masyarakat yang disebut Kewang. Kewang adalah satu-satunya
organisasi tradisional masyarakat yang lepas dari pengamatan Hindia Belanda. Pemimpinnya disebut
Latukewano atau raja hutan, pengelola disebut Sina Kewano dan para anggota disebut Ana Kewano atauanak Kewang.Para Kewang (pemuda negeri anggota Kewang) berhubungan secara rahasia antar sesama mereka dariberbagai negeri untuk saling menyampaikan dan melengkapi informasi.Untuk itu mereka seringmengadakan rapat di hutanhutan.Hasil pertemuan dilaporkan kepada para serdadu Saparua yang berada diAmbon. Para serdadu ini mempunyai sikap yang sama terhadap Pemerintah Hindia Belanda, hanya sajamereka bernasib lebih baik karena tidak dicurigai.Tatkala terdengar berita bahwa mereka akan dikirim ke luar daerah (Ambon) untuk berperang di Jawa danSumatera mereka memutuskan bahwa itulah saat yang tepat untuk menyerang Pemerintah Hindia Belanda.Mereka tidak mau meninggalkan tanah tumpah darah mereka dan dipisahkan dari keluarga.Karena itumereka intensifkan komunikasi dengan para Kewang dan sisa-sisa pasukan Pattimura yang berada diSaparua.Mereka menyurat dan menyampaikan berita ini kepada pasukan Pattimura di Saparua yangdipimpin Izaak Pollatu, Marsma Sapulette dan Tourissa Tamaela.Ketiga orang itu selain sebagai pemimpinkelompok yang telah siap melawan Belanda juga adaiah kepala Kewang dari negeri-negeri Tuhaha, Ulathdan Porto di pulau Saparua.
Rapat-rapat makin diintensifkan antara lain di rumah Izaak Pollatu, kemudian di Marsma apulette. Merekamembahas surat dari serdadu di Ambon dan sebagian lagi siap untuk menyerang Belanda di Saparua. Salahsatu surat yang ditujukan untuk raja Saparua jatuh ke tangan residen. Akhirnya rahasia perlawanan bocordan Pemerintah Hindia Belanda mengambil langkah-langkah pengamanan dan menggagalkan usaha paraKewang yang telah bertahun-tahun mempersiapkan rencana itu. Perlawanan pasukan Pattimura di Saparuatahun 1829 yang bekerjasama dengan serdadu Saparua di Ambon itu pun gagal. Mereka ditangkap dandiajukan ke pengadilan negeri di Ambon. Pergolakan rakyat di daerah ini berakhir di sini

Perlawanan Pangeran Antasari Tehadap Belanda

E. Perlawanan Pangeran Antasari Tehadap Belanda
Pangeran berwajah ganteng ini, telah bekerja sama dengan para petani. Dua tokoh pimpinan kaum petani saat itu Panembahan Aling dan Sultan Kuning, telah membantu Antasari untuk melancarkan serangan besar-besaran.Mereka menyerang pertambangan batubara Belanda dan pos-pos misionaris serta membunuh sejumlah orang Eropah.Sehingga pihak Kolonial mendatangkan bantuan besar-besaran.Antasari kemudian bergabung dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Marthapura, Barito, Pleihari, kahayan, Kapuas, dan lain-lain.Mereka bersepakat mengusir Belanda dari Kesultanan Banjar.Maka perang makin menghebat, dibawah pimpinan Pangeran Antasari.Pernah pihak Belanda mengajak berunding, tetapi Pangeran Antasari tidak pernah mau.Daerah pertempurannya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimanatan Selatan, Pangeran Antasari terserang juga, sampai ia meninggal pada 11 Oktober 1862 di bayan Begak, Kalimantan Selatan. Kemudian ia dimakamkan di Banjarmasin. Perlawanan orang Banjar ahirnya bisa mulai ditumpas pada tahun 1860, meskipun untuk ini dibutuhkan beaya sangat besar. Lalu sejak saat itu, pihak Kolonial menghapus kerajaan Banjar, Namun demikian pertempuran masih berlangsung terus dan baru berahir secara total pada tahun 1863. Setelah Antasari wafat, kepemimpinan rakyat Banjar dilanjutkan oleh keturunan dan kerabatnya.

Sebagaimana ditulis dalam Banjarmasin Post, 19 Agustus 2006, rupanya gambar yang menjadi referensi wajah untuk lukisan pada uang kertas yang akan datang itu, masih disangsikan kebenarannya. Tidak kurang janda almarhum pelulkisnya yang bernama Hasan Salman, menyatakan bahwa lukisan itu fiktif dan merupakan campuran dari 5 wajah orang. Nyatakah Pangeran Antasari ?. Tentu saja, bukankah ada makamnya !. Lalu kenapa tidak ada foto atau lukisan dirinya itu ?.Inilah pentingnya sejarah kita, sejarah nasional yang harus ditekuni penelitiannya dengan baik.Supaya jasa orang yang katanya amat besar ini dapat dilestarikan bagi anak cucu.
Perlwanan Sultan hasanuddin Terhadap belanda(Makassar)
Karena keberaniannya , Sultan Hasanudin mendapat julukan "Ayam Jantan dari Timur". Julukan ini justru diberikan oleh lawannya yaitu Belanda, karena merasakan bahwa perang dan perlawanan Sultan Hasanaudin adalah perlawanan yang paling dahsyat yang dirasakan Belanda dibandingkan perang-perang yang lain.
Sultan Hasanudin naik tahta sebagai raja Gowa ke-16 menggantikan Sultan Muhammad Said.Meskipun sebenarnya bukan putra mahkota, namun pengalaman dan kemampuannya yang luas ditunjuk oleh Sultan Muhammad Said menggantikan dirinya setelah wafat.
Karena tidak mau tunduk terhadap pemerintah kolonialis Belanda yang berpusat di Batavia, Sultan Hasanudin berkali-kali mendapat serangan dari pasukan Belanda yaitu penyerangan yang pertama terjadi pada tahun1660, kedua terjadi tahun 1666, ketiga tahun 1667 dan keempat pada tahun1669. Perang yang dilakukan oleh Sultan Hasanudin bukan semata-mata untuk mempertahankan tanah air atau mengusir kaum imperialis, namun juga membantu rakyat di luar kerajaannya yang mengalami tindakan kejam yang dilakukan oleh Belanda. Dalam hal ini, pada bulan Maret 1645 Sultan Hasanudin mengirimkan armada yang kuat terdiri dari 100 perahu untuk membantu rakyat Maluku mengadakan perlawanan terhadap kekejaman Belanda yang dikenal dalam sejarah sebagai "Perang Hongi".
Meskipun pada masa pemerintahannya berulang kali terjadi peperangan, namun Sultan Hasanuddin bukanlah sosok pemimpin yang suka kekerasan dan haus perang.Sifat humanismenya sebagai raja besar nampak pada kesediaannya untuk menerima Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.
Isi perjanjian Bongaya antara lain:
· Sultan hasanuddin harus memberikan kebebasan kepada VOC berdagang dikawasan Makassar dan Maluku
· VOC memegang monopoly perdagangan di wilyah Indonesia bagian Timur denagn pusatnya Makassar
· Sultan Hasanuddin harus mengakui bahwa Aru Palaka adalah Raja Bone
Dengan menerima perjanjian tersebut Sultan Hasanudin dapat mencegah banyaknya korban jatuh di kedua belah pihak, apalagi ternyata pasukannya harus berhadapan dengan bangsa sendiri yaitu Tidore, Ternate, Buton dan Bone yang membantu Belanda.Penghentian sementara perang ini juga merupakan strategi Sultan Hasanudin untuk mengatur nafas sebelum menghadapiperangselanjutnya.
Sultan Hasanudin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 dalam usia yang relatif muda yakni 39 tahun. Dalam usianya yang pendek banyak hal yang telah dikerjakannya, atas jasanya diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada tahun 1973.

Riwayat Singkat Perjuangan Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII


Ketika Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi Raja Batak, waktu itu umurnya baru 19 tahun.Sampai pada tahun 1886, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang masih muda.Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang.Kalau Raja Sisingamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang “terbeang” atau ditawan, harus dilepaskan.Sisingamangaraja XII memang terkenal anti perbudakan, anti penindasan dan sangat menghargai kemerdekaan.Belanda pada waktu itu masih mengakui Tanah Batak sebagai “De Onafhankelijke Bataklandan” (Daerah Batak yang tidak tergantung pada Belanda.
Tahun 1837, kolonialis Belanda memadamkan “Perang Paderi” dan melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga.
Karena itu, sejak tahun 1837, Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan seorang Residen berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Sedangkan bagian Tanah Batak lainnya, yaitu daerah-daerah Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka, atau ‘De Onafhankelijke Bataklandan’.
Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh.Saat itu Tanah Batak di mana Raja Sisingamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda.
Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, Belanda mengumumkan “Regerings” Besluit Tahun 1876” yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, suasana di Tanah Batak bagian Utara menjadi panas.
Raja Sisingamangaraja XII yang kendati secara clan, bukan berasal dari Silindung, namun sebagai Raja yang mengayomi raja-raja lainnya di seluruh Tanah Batak, bangkit kegeramannya melihat Belanda mulai menganeksasi tanah-tanah Batak.

Raja Sisingamangaraja XII cepat mengerti siasat strategi Belanda. Kalau Belanda mulai mencaplok Silindung, tentu mereka akan menyusul dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan lain-lain.
Raja Sisingamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi.Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dihimpunnya dalam suatu rapat raksasa di Pasar Balige, bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu diambil tiga keputusan sebagai berikut :
1. Menyatakan perang terhadap Belanda
2. Zending Agama tidak diganggu
3.Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.

Terlihat dari peristiwa ini, Sisingamangaraja XII lah yang dengan semangat garang, mengumumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah.Terlihat pula, Sisingamangaraja XII bukan anti agama.Dan terlihat pula, Sisingamangaraja XII di zamannya, sudah dapat membina azas dan semangat persatuan dan suku-suku lainnya.
Tahun 1877, mulailah perang Batak yang terkenal itu, yang berlangsung 30 tahun lamanya.
Dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa, 30 tahun.
Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII.

Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah Bakara, tempat istana dan markas besar Sisingamangaraja XII di Tangga Batu, Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihempang.
Belanda merobah taktik, ia menyerbu pada babak berikutnya ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Sisingamangaraja XII di daerah Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara.
Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda, sedangkan Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima-panglima Sisingamangaraja XII antara lain Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea. Baru setahun kemudian Laguboti jatuh setelah Belanda mengerahkan pasukan satu batalion tentara bersama barisan penembak-penembak meriam.

Tahun 1883, seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya oleh Sisingamangaraja XII, kini giliran Toba dianeksasi Belanda.Domino berikut yang dijadikan pasukan Belanda yang besar dari Batavia (Jakarta sekarang), mendarat di Pantai Sibolga.Juga dikerahkan pasukan dari Padang Sidempuan.
Raja Sisingamangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede.Baik kekuatan laut dari Danau Toba, pasukan Sisingamangaraja XII dikerahkan. Empat puluh Solu Bolon atau kapal yang masing-masing panjangnya sampai 20 meter dan mengangkut pasukan sebanyak 20 x 40 orang jadi 800 orang melaju menuju Balige. Pertempuran besar terjadi.

Pada tahun 1883, Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Sisingamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih.Tahun itu, di hampir seluruh Tanah Batak pasukan Belanda harus bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja Sisingamangaraja XII.
Namun pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Sisingamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda.Sisingamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga ikut Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.

Pada waktu itulah, Gunung Krakatau meletus.Awan hitam meliputi Tanah Batak.Suatu alamat buruk seakan-akan datang.Sebelum peristiwa ini, pada situasi yang kritis, Sisingamangaraja XII berusaha melakukan konsolidasi memperluas front perlawanan.Beliau berkunjung ke Asahan, Tanah Karo dan Simalungun, demi koordinasi perjuangan dan perlawanan terhadap Belanda.
Dalam gerak perjuangannya itu banyak sekali kisah tentang kesaktian Raja Sisingamangaraja XII.
Perlawanan pasukan Sisingamangaraja XII semakin melebar dan seru, tetapi Belanda juga berani mengambil resiko besar, dengan terus mendatangkan bala bantuan dari Batavia, Fort De Kok, Sibolga dan Aceh. Barisan Marsuse juga didatangkan bahkan para tawanan diboyong dari Jawa untuk menjadi umpan peluru dan tameng pasukan Belanda.

Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari persembunyian Sisingamangaraja XII.Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal.Oleh pasukan Sisingamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki “Si Gurbak Ulu Na Birong”.Tetapi pasukan Sisingamangaraja XII pun terus bertarung.Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang.Tetapi Sisingamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung.Panglima Sisingamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap.Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Sisingamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda.Ini terjadi pada tahun 1889.
Tahun 1890, Belanda membentuk pasukan khusus Marsose untuk menyerang Sisingamangaraja XII.Pada awal abad ke 20, Belanda mulai berhasil di Aceh.
Tahun 1903, Panglima Polim menghentikan perlawanan. Tetapi di Gayo, dimana Raja Sisingamangaraja XII pernah berkunjung, perlawanan masih sengit. Masuklah pasukan Belanda dari Gayo Alas menyerang Sisingamangaraja XII.
Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Sisingamangaraja XII.Tetapi Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah.Ia bertempur sampai titik darah penghabisan. Boru Sagala, Isteri Sisingamangaraja XII, ditangkap pasukan Belanda. Ikut tertangkap putra-putri Sisingamangaraja XII yang masih kecil.Raja Buntal dan Pangkilim.Menyusul Boru Situmorang Ibunda Sisingamangaraja XII juga ditangkap, menyusul Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII dan lain-lain.
Tahun 1907, di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Sisingamangaraja XII oleh peluru Marsuse Belanda pimpinan Kapten Christoffel. Sisingamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Konon Raja Sisingamangaraja XII yang kebal peluru tewas kena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian, yang gugur di pangkuannya.
Pengikut-pengikutnya berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Sisingamangaraja XII yang masih hidup ditawan, dihina dan dinista, mereka pun ikut menjadi korban perjuangan.

Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih, ulet, militan, Raja Sisingamangaraja XII selama 30 tahun, selama tiga dekade, telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara.
Itulah yang dinamakan “Semangat Juang Sisingamangaraja XII”, yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda.
Sisingamangaraja XII benar-benar patriot sejati.Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi.

Sebelum Beliau gugur, pernah penjajah Belanda menawarkan perdamaian kepada Raja Sisingamangaraja XII dengan imbalan yang cukup menggiurkan.Patriotismenya digoda berat. Beliau ditawarkan dan dijanjikan akan diangkat sebagai Sultan. Asal saja bersedia takluk kepada kekuasaan Belanda. Beliau akan dijadikan Raja Tanah Batak asal mau berdamai. Gubernur Belanda Van Daalen yang memberi tawaran itu bahkan berjanji, akan menyambut sendiri kedatangan Raja Sisingamangaraja XII dengan tembakan meriam 21 kali, bila bersedia masuk ke pangkuan kolonial Belanda, dan akan diberikan kedudukan dengan kesenangan yang besar, asal saja mau kompromi, tetapi Raja Sisingamangaraja XII tegas menolak. Ia berpendirian, lebih baik berkalang tanah daripada hidup di peraduan penjajah.
Raja Sisingamangaraja XII gugur pada tanggal 17 Juni 1907, tetapi pengorbanannya tidaklah sia-sia.
Dan cuma 38 tahun kemudian, penjajah betul-betul angkat kaki dari Indonesia.Pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Sukarno-Hatta.
Kini Sisingamangaraja XII telah menjadi sejarah. Namun semangat patriotismenya, jiwa pengabdian dan pengorbanannya yang sangat luhur serta pelayanannya kepada rakyat yang sangat agung, kecintaannya kepada Bangsa dan Tanah Airnya serta kepada kemerdekaan yang begitu besar, perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa Indonesia.

Dalam upaya melestarikan system nilai yang melandasi perjuangan Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII dengan menggali khasanah budaya dan system nilai masa silam yang dikaitkan dengan keinginan membina masa depan yang lebih baik, lebih bermutu dan lebih sempurna, maka Lembaga Sisingamangaraja XII yang didirikan dan diketuai DR GM Panggabean pada tahun 1979, telah membangun monumen Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di kota Medan yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto di Istana Negara dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 1997 dan Pesta Rakyat peresmian monumen tersebut di Medan dihadiri sekitar seratus ribu orang, dengan Pembina Upacara Menko Polkam Jenderal TNI Maraden Panggabean.
Kemudian oleh Yayasan Universitas Sisingamangaraja XII pada tahun 1984 telah didirikan Universitas Sisingamangaraja XII (US XII) di Medan, pada tahun 1986 Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) di Silangit Siborong-borong Tapanuli Utara dan pada tahun 1987 didirikan STMIK Sisingamangaraja XII di Medan.
Sumber :Harian SIB

Perlawanan menentang penjajahan Belanda







4 Votes
a. Perlawanan terhadap VOCPada saat VOC berkuasa di Indonesia terjadi beberapa kali perlawanan. Pada tahun 1628 dan 1629, Mataram melancarkan serangan besar-besaran terhadap VOC di Batavia.Sultan Agung mengirimkan ribuan prajurit untuk menggempur Batavia dari darat dan laut.Di Sulawesi Selatan VOC mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia di bawah pimpinan Sultan Hassanuddin.Perlawanan terhadap VOC di Pasuruan Jawa Timur dipimpin oleh Untung Suropati.Sementara Sultan Ageng Tirtayasa mengobarkan perlawanan di daerah Banten.
b. Perlawanan Pattimura (1817) Belanda melakukan monopoli perdagangan dan memaksa rakyat Maluku menjual hasil rempah-rempah hanya kepada Belanda, menentukan harga rempah-rempah secara semena-mena, melakukan pelayaran hongi, dan menebangi tanaman rempahrempah milik rakyat. Rakyat Maluku berontak atas perlakuan Belanda. Dipimpin oleh Thomas Matulessi yang nantinya terkenal dengan nama Kapten Pattimura, rakyat Maluku melakukan perlawanan pada tahun 1817. Pattimura dibantu oleh Anthony Ribok, Philip Latumahina, Ulupaha, Paulus Tiahahu, dan seorang pejuang wanita Christina Martha Tiahahu.Perang melawan Belanda meluas ke berbagai daerah di Maluku, seperti Ambon, Seram, Hitu, dan lain-lain.
Belanda mengirim pasukan besarbesaran.Pasukan Pattimura terdesak dan bertahan di dalam benteng.Akhirnya, Pattimura dan kawan-kawannya tertawan. Pada tanggal 16 Desember 1817, Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria di Ambon.
c. Perang Padri (1821-1837)Perang Padri bermula dari pertentangan antara kaum adat dan kaum agama (kaum Padri). Kaum Padri ingin memurnikan pelaksanaan agama Islam.Gerakan Padri itu ditentang oleh kaum adat.Terjadilah bentrokan- bentrokan antara keduanya.Karena terdesak, kaum adat minta bantuan kepada Belanda.Belanda bersedia membantu kaum adat dengan imbalan sebagian wilayah Minangkabau.
Pasukan Padri dipimpin oleh Datuk Bandaro.Setelah beliau wafat diganti oleh Tuanku Imam Bonjol.Pasukan Padri dengan taktik perang gerilya, berhasil mengacaukan pasukan Belanda.Karena kewalahan, Belanda mengajak berunding.Pada tahun 1925 terjadi gencatan senjata.Belanda mengakui beberapa wilayah sebagai daerah kaum Padri.Perang Padri meletus lagi setelah Perang Diponegoro berakhir.Tahun 1833 terjadi pertempuran hebat di daerah Agam.Tahun 1834 Belanda mengepung pasukan Bonjol.Namun pasukan Padri dapat bertahan sampai dengan tahun 1837.Pada tanggal 25 Oktober 1837, benteng Imam Bonjol dapat diterobos.Beliau tertangkap dan ditawan.
d. Perang Diponegoro (1925-1830)Perang Diponegoro berawal dari kekecewaan Pangeran Diponegoro atas campur tangan Belanda terhadap istana dan tanah tumpah darahnya. Kekecewaan itu memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya.
Dipimpin Pangeran Diponegoro, rakyat Tegalrejo menyatakan perang melawan Belanda tanggal 20 Juli 1825. Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangkubumi sebagai penasehat, Pangeran Ngabehi Jayakusuma sebagai panglima, dan Sentot Ali Basyah Prawiradirja sebagai panglima perang.Pangeran Diponegoro juga didukung oleh para ulama dan bangsawan.Daerah-daerah lain di Jawa ikut berjuang melawan Belanda.Kyai Mojo dari Surakarta mengobarkan Perang Sabil.
Antara tahun 1825-1826 pasukan Diponegoro mampu mendesak pasukan Belanda.Pada tahun 1827, Belanda mendatangkan bantuan dari Sumatra dan Sulawesi.Jenderal De Kock menerapkan taktik perang benteng stelsel.Taktik ini berhasil mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.Banyak pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro gugur dan tertangkap.Namun demikian, pasukan Diponegoro tetap gigih.Akhirnya, Belanda mengajak berunding.Dalam perundingan yang diadakan tanggal 28 Maret 1830 di Magelang, Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda.Beliau diasingkan dan meninggal di Makassar.
e. Perang Banjarmasin (1859-1863)Penyebab perang Banjarmasin adalah Belanda melakukan monopoli perdagangan dan mencampuri urusan kerajaan. Perang Banjarmasin dipimpin oleh Pangeran Antasari.Beliau didukung oleh Pangeran Hidayatullah.Pada tahun 1862 Hidayatullah ditahan Belanda dan dibuang ke Cianjur.Pangeran Antasari diangkat rakyat menjadi Sultan.Setelah itu perang meletus kembali.Dalam perang itu Pangeran Antasari luka-luka dan wafat.
f. Perang Bali (1846-1868)Penyebab perang Bali adalah Belanda ingin menghapus hukum tawan karang dan memaksa Raja-raja Bali mengakui kedaulatan Belanda di Bali. Isi hukum tawan karang adalah kerajaan berhak merampas dan menyita barang serta kapal-kapal yang terdampar di Pulau Bali.Raja-raja Bali menolak keinginan Belanda.Akhirnya, Belanda menyerang Bali.
Belanda melakukan tiga kali penyerangan, yaitu pada tahun 1846, 1848, dan 1849.Rakyat Bali mempertahankan tanah air mereka.Setelah Buleleng dapat ditaklukkan, rakyat Bali mengadakan perang puputan, yaitu berperang sampai titik darah terakhir.Di antaranya Perang Puputan Badung (1906), Perang Puputan Kusumba (1908), dan Perang Puputan Klungkung (1908).Salah saut pemimpin perlawanan rakyat Bali yang terkenal adalah Raja Buleleng dibantu oleh Gusti Ketut Jelantik.
g. Perang Sisingamangaraja XII (1870-1907)Pada saat Sisingamangaraja memerintah Kerajaan Bakara, Tapanuli, Sumatera Utara, Belanda datang. Belanda ingin menguasai Tapanuli.Sisingamangaraja beserta rakyat Bakara mengadakan perlawanan.Tahun 1878, Belanda menyerang Tapanuli.Namun, pasukan Belanda dapat dihalau oleh rakyat.
Pada tahun 1904 Belanda kembali menyerang tanah Gayo.Pada saat itu Belanda juga menyerang daerah Danau Toba.Pada tahun 1907, pasukan Belanda menyerang kubu pertahanan pasukan Sisingamangaraja XII di Pakpak.Sisingamangaraja gugur dalam penyerangan itu.Jenazahnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke Balige.
h. Perang Aceh (1873-1906)Sejak terusan Suez dibuka pada tahun 1869, kedudukan Aceh makin penting baik dari segi strategi perang maupun untuk perdagangan. Belanda ingin menguasai Aceh.Sejak tahun 1873 Belanda menyerang Aceh.Rakyat Aceh mengadakan perlawanan di bawah pemimpin-pemimpin Aceh antara lain Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Teuku Ibrahim, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dien.
Meskipun sejak tahun 1879 Belanda dapat menguasai Aceh, namun wilayah pedalaman dan pegunungan dikuasai pejuang-pejuang Aceh.Perang gerilya membuat pasukan Belanda kewalahan.Belanda menyiasatinya dengan stelsel konsentrasi, yaitu memusatkan pasukan supaya pasukannya dapat lebih terkumpul.
Belanda mengirim Dr. Snouck Hurgronje untuk mempelajari sistem kemasyarakatan penduduk Aceh.Dari penelitian yang dibuatnya, Hurgronje menyimpulkan bahwa kekuatan Aceh terletak pada peran para ulama.Penemuannya dijadikan dasar untuk membuat siasat perang yang baru.Belanda membentuk pasukan gerak cepat (Marchose) untuk mengejar dan menumpas gerilyawan Aceh.Dengan pasukan marchose Belanda berhasil mematahkan serangan gerilya rakyat Aceh.Tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh.Pasukan Cut Nyak Dien yang menyingkir ke hutan dan mengadakan perlawanan juga dapat dilumpuhkan.


0 komentar:

Poskan Komentar